Sore ini aku harus beranjak dari sebuah tempat pengasingan yang langitnya agak kelam jauh ditempat seharusnya aku berada. Kukemasi sebagian keperluanku diransel yang kian renta karna kutahu ranselku tak akan mampu memuat beban seperti kali pertama kubeli dari sisa uang sakuku dulu.
benar saja belum sampai setengah perjalanan kupandang langit hitam sepanjang jalan dan didepan sana setetes air hujan bersama kawanannya bersiaga menghalau jalanku, tapi aku tak ragu karena mesin tempurku sangat setia menemaniku menerobos ruang sempit diantara lajur kawanan air langit itu.
sepanjang jalan kudapati kawanan air langit itu terus menghujaniku bagai merebut tubuh lemahku tapi maaf kukatakan pada sekelompok darinya yang tersadar bahwa tubuh ini takan kurelakan tersentuh oleh basahmu.
dua jam hampir berlalu ketika atap istanaku mulai tampak dan rupanya menyerah pada titik dua kilometer dari istanaku.
(....bersambung...)
sepanjang jalan kudapati kawanan air langit itu terus menghujaniku bagai merebut tubuh lemahku tapi maaf kukatakan pada sekelompok darinya yang tersadar bahwa tubuh ini takan kurelakan tersentuh oleh basahmu.
dua jam hampir berlalu ketika atap istanaku mulai tampak dan rupanya menyerah pada titik dua kilometer dari istanaku.
(....bersambung...)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar